close

5 Pantai Memikat Wisata Pulau Bangka



Wisata Pulau Bangka terkenal akan panorama lautnya yang menawan. Daerah penghasil timah dan lada putih ini memiliki sejumlah pantai yang memikat, di antaranya Parai Tenggiri, Tanjung Pesona, dan sebagainya. Perjalanan wisata Pulau Bangka akan membawa Anda pada pengalaman wisata pantai yang spesial. Perjalanan wisata ke Pulau Bangka akan sangat tepat dilakukan di kala musim sedang cerah serta ombak laut yang relatif tenang. Waktu terbaik untuk ini adalah pada medio April hingga September. Kegiatan wisata pantai di Pulau Bangka akan terasa sangat menyenangkan ketika cuaca cerah, membuat Anda betah berlama-lama menikmati berbagai macam kegiatan menarik yang ada di sana.
Berikut ini adalah sejumlah pantai paling memikat yang dapat Anda temui dalam perjalanan wisata Pulau Bangka di Prov. Kep. Bangka Belitung.

  1. Pantai Parai Tenggiri
    Pantai ini berada di Kec. Sungailiat, berjarak sekitar 40 km dari kota Pangkalpinang. Pantai Parai Tenggiri adalah pantai yang populer di Pulau Bangka. Dengan kontur yang landai dan ombak yang tenang, Anda dapat melakukan banyak kegiatan wisata di Pantai Parai Tenggiri. Berenang, bermain di bibir pantai, hingga olahraga air dapat Anda lakukan di pantai ini. Keberadaan batu-batu granit yang besar di kawasan pantai memberikan Anda sebuah panorama alam yang begitu indah, sesuatu yang menjadi khas dari Pantai Parai Tenggiri. Jika Anda ingin memancing di tengah laut, pergilah ke penyewaan perahu pancing yang lengkap dengan semua peralatannya. Anda akan mendapatkan pengalaman memancing yang seru di sana. Jika ingin mencoba permainan air, maka tersedia banana boat hingga parasailing yang dapat Anda ambil.

  2. Pantai Matras
    Pantai Matras memiliki kontur yang landai, serupa dengan Pantai Parai Tenggiri. Pantai di Pulau Bangka ini memiliki keunggulan panorama pantai yang kuat. Pantai yang terletak di Desa Sinar Baru, Kecamatan Sungailiat hanya berjarak sekitar 40 km dari ibukota Provinsi Babel, Pangkalpinang. Atau, berjarak sekitar 7 km dari Kota Sungailiat. Pantai Matras memiliki hamparan pasir yang halus dengan lambaian nyiur pantai yang mempesona. Keberadaan aliran sungai di kawasan pantai ini menambah daya tariknya yang menawan. Menikmati panorama di Pantai Matras sungguh menyenangkan, Anda dapat menyewa bungalow sederhana yang nyaman untuk bersenang-senang di sana.

  3. Pantai Tanjung Pesona
    Pantai Tanjung Pesona adalah salah satu tempat wisata favorit bagi masyarakat Pulau Bangka. Hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit untuk dapat sampai di pantai ini dari kota Sungailiat, atau 45 menit dari Pangkalpinang. Pantai yang terletak di Desa Rambak, Sungailiat ini memiliki banyak wahana permainan yang memikat. Ini akan sangat menyenangkan bagi anak-anak. Selain itu, berbagai permaianan dan olahraga air juga turut menambah daya tarik tempat wisata di Pulau Bangka ini. Anda dapat bermain kano, banana boat, jetski, berenang, bermain pasir, hingga memancing. Cukup dengan menyewa speedboat dan peralatan memancing yang telah disediakan, Anda tinggal melaju ke tengah laut untuk mengisi liburan Anda dengan memancing.

  4. Pantai Tikus
    Pantai Tikus adalah sebuah pantai di Pulau Bangka yang masih tergolong alami, cukup terjaga dari gangguan tangan-tangan manusia. Panorama indah pantai ini terwujud melalui bukit terjal dengan hamparan bebatuan granit dan air laut yang kebiruan. Di puncak bukit, Anda akan menyaksikan adanya sebuah kuil peribadatan yang berdiri cukup megah dengan pemandangan yang indah. Kuil atau kelenteng ini berbentuk bulat, menjadi sebuah ciri khas yang ada di Pantai Tikus.

  5. Pantai Pasir Padi
    Pantai Pasir Padi berjarak sekitar 7 km dari kota Pangkalpinang. Ini adalah pantai yang jaraknya paling dekat jika Anda telah sampai di bandara udara Pangkalpinang. Tempat wisata Pulau Bangka yang satu ini adalah yang paling terkenal di Bangka. Tak ayal, Anda akan mendapati banyaknya warga Bangka yang mengunjungi kawasan wisata Pantai Pasir Padi. Pantai Pasir Padi memiliki pasir yang menyerupai bulir-bulir padi, itulah sebabnya dinamakan sebagai pasir padi. Untuk dapat masuk ke kawasan wisata Pantai Pasir Padi ini, Anda harus membayar tiket masuk pantai Pasir Padi sebesar Rp 10 ribu per orang. Di kawasan Pantai Pasir Padi, tersedia fasilitas publik yang begitu lengkap. Hotel berbintang, restoran, hingga warung makan tersedia dalam jumlah banyak di sana.

Sumber : http://www.initempatwisata.com/wisata-indonesia/bangka/5-pantai-memikat-wisata-pulau-bangka/1395


close

Kerajinan Tangan Unik dan Menarik dari Bangka Belitung



Kerajinan tangan dari bangka belitung - ini bisa jadi oleh oleh khas bangka yang dapat anda bawa pulang setelah mengunjung berwisata ke pulau bangka belitung. Sudah pantas ini dikatakan sebagai kerajinan bangka belitung yang unik dan menarik yang merupakan salah satu daya dari wisatawan. Sama halnya dengan daerah lain tentunya, yang memiliki kerajinan tangan khas daerahnya sendiri. Inilah beberapa kerajinan tangan di bangka belitung yang dibuat oleh tangan tangan profesional, sehingga kualitasnya terjaga.

1. Songkok atau Kopiah Resam

Tanaman resam ini banyak sekali tumbuh di hutan bangka seperti terdapat di kebun-kebun, pinggiran jalan dan sebagainya. Resam sejenis paku-pakuan tapi bukan paku tembok atau paku besi. Hidup di dataran rendah dan sedang. Karena tanaman resam ini banyak berkeliaran dimana-mana, ide untuk membuat kopiah resam berawal dari situlah. Pembuatan kopiah resam cukup memakan waktu yang cukup lama, karena harus melewati beberapa proses pengerjaan mulai dari memilah resam yang berkualitas - proses pengerikan - proses penyanyaman, yang semua itu perlu ketekunan dan kesabaran luar biasa. Di pulau Bangka, anda dapat menemukan pengerajin kopiah resam di desa Pedindang (Pangkalpinang), Payung (Bangka Selatan) dan Sangir (Bangka Tengah). Secara kualitas hasil kopiah resam dari desa Sangir itu lebih baik, menurut cerita dari tetangga. Mungkin dilihat dari sisi anyaman, kualitas resam dan pengolahan, hal itulah yang membuatnya mahal. Jika anda bertanya soal harga, jangan kaget. Kopiah resam yang berkualitas dapat mencapai harga dikisaran 500 ribu hingga 3 juta rupiah. Bentuk dapat disesuaikan dengan permintaan, misalnya bentuk topi, topi pantai, topi model dan sebagainya.

2. Kain Cual

Ini salah satu icon bangka belitung yang cukup terkenal adalah kain cual. Seperti halnya batik yang merupakan icon dibeberapa kota pulau jawa. Kain cual berbeda dengan batik, yang memiliki corak tersendiri. Tersedia warna warni corak, ukiran, kualitas kain yang dapat anda bawa pulang sebagai oleh oleh bangka belitung. Beberapa motif kain cual kebanyakan bermotif flora dan fauna antara lain ubur ubur, merak, bebek, kembang setangkai, kembang rumping, kembang rukem, kembang setaman, kembang kenanga dan motif gajah mada 2003. Ada 9 motif asli dan sudah resmi di patenkan oleh pemerintah bangka belitung dan meluas ke skala nasional. Susunan motif kain tenun cual dan teknik tenun yang digunakan merupakan perpaduan anda budaya china dan melayu yang masih melekat di hasil karya kain cual tersebut. Sebagai oleh oleh bangka belitung, harga yang di tawarkan dapat mencapai jutaan rupiah tergantung kualitas dan tingkat kesulitan motif.

3. Sourvenir Cantik dari Timah

Anda pernah mengunjungi kota Yogyakarta? Sebuah karya unik dan ukiran bernilai seni tinggi ditawarkan kedalam bentuk sourvenir yang terbuat dari perak. Berbeda dengan Yogyakarta, Bangka Belitung juga memiliki sourvenir cantik yang terbuat dari olahan biji dan pasir timah selanjutnya dibentuk menjadi product yang memiliki nilai seni yang tinggi oleh tangan tangan profesional. Sudah dari zaman dahulu kala, bangka belitung terkenal akan timahnya. Sourvenir yang terbuat dari timah ini dapat anda temui dikota kota yang ada di bangka belitung. Misalnya saja di kota pangkalpinang Jl. Jendral Sudirman dekat Taman Sari Pangkalpinang, ada sebuah toko yang menjajakan sourvenir ini. Ada yang berbentuk seperti perahu layar, berbentuk cincin, kalung, gelang, dan hiasan lainya dapat dibuat sesuai dengan permintaan anda. Memang kalau soal harga bervariasi, tergantung tingkat kesulitan dalam membuat dan proses pencetakan - penghalusan, dan sebagainya. Semakin sulit biasanya semakin mahal harga yang diberikan. Itu dia, sudah diuraikan beberapa hasil karya berupa kerajinan tangan bangka belitung yang unik, menarik, dan wajib anda bawa pulang saat mengunjungi pulau bangka.

Semoga artikel ini informatif dan selalu memberikan isi materi yang berkualitas.

Sumber : http://www.zonabangkabelitung.com/2015/01/kerajinan-tangan-unik-dan-menarik-dari-bangka-belitung.html


close

Kepercayaan-Kepercayaan Unik Dunia Khas Bangka Belitung



Setiap wilayah pasti memiliki kebiasaan, cerita, legenda, mitos, budaya dan lain-lain. Kali ini kami akan mencoba menceritakan kejadian-kejadian apa saja yang unik khas di Bangka Belitung. Fakta ini berasal dari pengalaman hidup kami sendiri dari lahir hingga sampai saat ini dan cerita dari berbagai sumber. Di Bangka Belitung, setiap kampung berbeda-beda versi walaupun masih dalam satu wilayah. Hal berikut mungkin dianggap mitos/tahayul, tapi sebagian masih berlaku di masyarakat dan sebagian lagi terkadang masih dialami secara nyata. Mungkin saja kebetulan atau ada hal yang lain (hanya Tuhan Yang Maha Tahu).
Sebagai masyarakat lokal yang awam kami pribadi menganggap kejadian unik yang terjadi di masyarakat Bangka Belitung ini sebenarnya bahwa alam ingin mengajarkan kita banyak hal tentang keluhuran, sedangkan budaya atau mitos merupakan kekayaan budaya kita yang mengajarkan kita untuk kembali menjadi masyarakat Indonesia seutuhnya melalui kearifan budaya yang kita miliki yang mulai terkikis. Berikut beberapa kepercayaan-kepercayaan unik dunia khas Bangka Belitung:

  1. Taukah anda ada "mantra" khusus untuk masyarakat yang sudah kebelet ingin buang air kecil dan besar di sembarang tempat. Mantra itu berbunyi "nek akak permisi ku nek (buang air besar/kecil ), ku pacak ningok ku.. ku dak pacak ningok ka, permisi ok... ". Artinya nenek kakek permisi saya mau (buang air besar/kecil), kakek/nenek bisa lihat saya tapi saya tidak bisa melihat kakek/nenek, permisi ya... Konon katanya hal ini di lakukan agar para jin yang berada di tempat kejadian bisa menghindar ketika buang air besar/kecil nantinya. Bila hal ini dilanggar maka "perabot" yang bersangkutan bisa membesar. Namun sebagai umat beragama tentu selain "permisi" tersebut kita juga harus berdoa sesuai dengan agama yang kita anut.
  2. Bila anda disuguhi makanan/minuman oleh penduduk lokal bangka belitung, usahakan untuk jangan menolak mencicipi. Tapi bila anda sedang benar-benar kenyang atau buru-buru ada baiknya anda hanya cukup menyentuh hidangan tersebut dengan jari. Lalu jari tersebut cukup disentuhkan di lidah anda. Terkadang bila kita mengabaikannya nanti kita akan tertimpa musibah. Mengapa demikian? Di Bangka Belitung ada mitos dengan istilah "kepun". Kepun bisa diartikan dengan kualat kecil terhadap makanan/minuman. Sebagian berpendapat kepun adalah kualat karena berlaku kurang sopan terhadap yang memberikan makanan/minuman. Logikanya, kalau seseorang sudah repot-repot menyiapkan dan menghidangkan makanan/minuman, tentu akan terkesan tidak sopan bila kita menolaknya. Namun ada mitos lain mengatakan bahwa kepun yang paling bahaya adalah kepun minuman kopi. Jadi menurut kami, percaya atau tidak anda pada hal ini bukankah tidak ada salahnya kita menghindari hal-hal yang tidak kita inginkan dengan hanya cukup melakukan hal yang kecil
  3. Ingin menyaksikan telur ayam bisa berdiri? Di Bangka Belitung ada tradisi masyarakat Tionghoa yaitu sembahyang Peh Cun. Setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Cina ada keunikan dimana telur ayam mentah yang masih segar dapat berdiri. Keunikannya bukan hanya sampai di situ saja, pada hari itu juga air laut mengalami puncak surut yang sangat jauh hingga 1 km. Biasanya pada hari tersebut hampir di seluruh pantai dipenuhi penduduk lokal.
  4. Dulu masyarakat di larang menunjuk kuburan dengan telunjuk, konon katanya nanti "isi" dalam kuburan tersebut akan menghampiri kita di lewat mimpi. Bila terlanjur menunjuk di wajibkan untuk mengulum jari telunjuk yang konon tujuannyya untuk membatalkan kembali bahwa kita telah menunjuk kuburan tersebut. Namun kebiasaan ini hampir sudah tidak di temui lagi di masyarakat.
  5. Mitos tentang timah di Bangka Belitung.
    1. Walau Bangka Belitung dikenal dengan penghasil timah, tapi taukah anda tidak semua tempat di Bangka Belitung mengandung timah. Konon katanya dulu orang-orang sakti di beberapa perkampungan telah mengubah pasir timah menjadi pasir biasa (masyarakat Bangka Belitung menyebutnya "mengasal" maksudnya mengembalikan timah kembali ke asalnya yaitu pasir biasa atau timah kosong). Hal ini di karenakan masyarakat perkampungan tersebut tidak bersedia daerah mereka dibuka penambangan timah. Dan yang hanya bisa mengembalikan pasir timah tersebut menjadi timah murni hanyalah orang sakti tersebut. Bila orang sakti tersebut meninggal dunia maka timah yang telah menjadi pasir biasa akan tetep manjadi pasir biasa selamanya.
    2. Penambang timah di Bangka Belitung percaya bahwa alur timah dijaga oleh peri timah. Oleh karena itu ada beberapa pantangan yang harus dipatuhi oleh pekerja tambang timah yaitu: dilarang makan nasi di atas sakan (sakan adalah tempat pencucian timah, memisahkan timah dengan pasir), dilarang meludah di atas sakan, dilarang membawa periuk (untuk memasak nasi) ke atas sakan, dilarang buang air besar/kecil di atas sakan. Bila peraturan itu dilanggar maka timah yang akan dihasilkan jadi berkurang, atau bahkan akan hilang.
  6. Di Bangka Belitung terdapat banyak sekali kolong (kolong adalah sungai bekas lobang tambang galian timah). Dan rata-rata setiap kolong biasanya dihuni oleh buaya. Mitos yang beredar melarang setiap orang untuk menepuk-nepuk (memukul-mukul) air kolong. Konon katanya hal ini bisa bisa mngundang buaya penunggu kolong tersebut datang.
  7. Sebagian masyarakat Bangka Belitung percaya pada larangan bersiul di malam hari juga membawa ketan, minyak tanah dan pisang di malam hari. Konon katanya hal ini bisa mengundang bangsa jin untuk datang dan membawa yang bersiul dan yang membawa minyak tanah, pisang dan ketan ke dunia bangsa jin.
  8. Kejadian unik khas Bangka Belitung yang terakhir ini berupa mitos, namun berhubung kami pernah bertemu dengan orang yang pernah mengalami berada "di alam lain" dan ada saksi-saksi yang memperkuat cerita orang tersebut, jadi kami berpendapat bahwa kejadian ini pantas untuk dimasukkan ke dalam artikel kali ini. Di kabupaten Bangka tepatnya di desa Aik Abik - Mapur terdapat satu desa yang dikenal dengan desa "Tujuh Bubung" (desa 7 rumah) yang hanya terdiri dari 7 rumah panggung yang beratap daun nipah. Tujuh Bubung adalah desa yang terdiri dari rumah panggung yang tidak sembarang orang bisa menemukannya. Menurut cerita bahwa Tujuh Bubung ini sangat misterius karena desa ini sering berpindah-pindah. Menurut kepercayaan suku Lom yang merupakan suku asli daerah setempat bahwa ada suatu kepercayaan yang masih dipegang teguh masyarakat suku Lom hingga sekarang. Kepercayaan itu adalah bahwa tidak boleh menceritakan dan membuka rahasia kekuatan magis dan supranatural yang terdapat di daerah tersebut. Hal ini merupakan sumpah warisan pada leluhurnya, bila melanggar akan mati muda. Hal inilah mungkin menjadi alasan masyarakat setempat merasa tabu ketika ditanya tentang misteri desa 7 bubung. Hal yang menarik dari cerita narasumber kami yaitu ketika mereka berada di alam misteri tersebut mereka tidak menemukan siang dan malam. Suasana yang mereka alami selama mereka berada di Tujuh Bubung adalah seperti suasana maghrib dan tidak pernah melihat cahaya matahari.

Sumber : http://www.cakrabuanatour.com/2014/04/fakta-unik-dunia-khas-bangka-belitung.html


close

Keramunting, Sang Anggur Bangka



Keramunting, begitulah masyarakat sering menamakannya. Namun meski begitu, keramunting ini disetiap daerah berbeda pula panggilannya. Jika di Belinyu masyarakat menyebutnya kemonteng (dalam dialek setempat), maka di daerah Pangkalpinang menyebutnya keradudok (dalam dialek setempat). Lain lagi di daerah Muntok Bangka Barat, mereka memanggilnya dengan sebutan keramunting. Masih banyak lagi sebutan masyarakat terhadap buah yang satu ini. Jika di artikan dalam bahasa Indonesia mungkin jadi keramunting ya.

Buah ini tumbuh liar disekitar pulau Bangka dan Belitung. Umumnya tumbuh di daerah berpasir dengan besar pohonnya kira-kira sebesar jempol kaki orang dewasa. Walaupun sebenarnya ada juga pohonnya yang sampai sebesar kaki orang dewasa. Buah ini berwarna hijau ketika mentah dan akan berwarna ungu kehitam-hitaman ketika masak. Di sela-sela semak belukar akan Anda temukan buah kemunting ini. Buahnya kecil-kecil, kira-kira sebesar ibu jari remaja dengan rasa yang manis. Isi buah ini penuh dengan biji layaknya strowberry, namun tetap manis dan lezat untuk dimakan meskipun tumbuhan liar dari hutan. Buah ini pun bisa langsung dimakan langsung dengan kulitnya dan dibuang pada bagian kepalanya.


Keramunting ini banyak juga kegunaannya, bisa juga dibuat untuk obat-obatan. Memakan buahnya bisa mengobati penyakit diare dan sakit perut. Selain itu, pucuk daunnya juga bisa dijadikan obat sakit perut dengan cara merebus pucuk daunnya dan diminum air rebusannya. Bagian lain yang juga berguna adalah akar dari tumbuhan ini, orang tua jaman dahulu sering merebus akar tumbuhan ini untuk mengobati muntah darah. Untuk kaum ibu yang sehabis melahirkan, tanaman ini juga bisa menjadi obat. Rebusan akar dan pucuk daunnya di yakini bisa mengecilkan rahim. Selain itu, rebusan akar dan pucuk daunnya juga bisa mengobati keputihan pada wanita. Ternyata banyak juga ya manfaat dari tumbuhan ini.

Tumbuhan ini tidak hanya terkenal di Kepulauan Bangka Belitung, namun juga di tanah-tanah melayu lainnya seperti di Minang tumbuhan ini disebut Karamuntiang. Dan ternyata tumbuhan ini juga terkenal di luar negeri juga seperti di Malaysia tumbuhan ini bernama Senduduk Air, di Vietnam, di Thailand, dan masih banyak lagi seperti di Kepulauan Hawaii dan lain-lain. Berbeda daerah berbeda pula nama yang disebutkan oleh orang-orang setempat.

Buah ini jika sedang musim berbuahnya maka akan sangat banyak sekali dijumpai di antara semak-semak belukar. Namun jika sedang tidak musim berbuah, maka pohonnya hanya satu dua yang berbuah. Sehingga agak sulit untuk mencarinya, bahkan tidak jarang buahnya menjadi kering karena tidak ada yang memetik atau memakannya. Burung-burung kecil juga sering memakan buah ini, namun tidak secermat manusia menyibak disela-sela dedaunannya. Saya masih ingat ketika masih kecil dahulu jika sedang musim berbuahnya, orang-orang dengan ramai memetik buah ini untuk dijual. Buah ini akan ditempatkan dalam sebuah bungkus yang berbentuk kerucut yang terbuat dari daun simpur. Dulu buah ini dijual dengan harga Rp. 500,- per bungkusnya. Namun sekarang sudah jarang dijumpai orang yang menjual buah ini.

Sumber : http://bangkabelitungkite.blogspot.com/2013/11/keramunting-sang-anggur-bangka.html


close

Suku Lom di Bangka Belitung - Suku Tertua di Bangka Belitung



Suku Lom adalah suku unik yang tinggal wilayah Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Suku Lom sering disebut juga sebagai suku Mapur, karena awalnya sebagian besar anggota suku tinggal di dusun Mapur. suku Lom disebut-sebut sebagai salahsatu komunitas yang masih kuat memegang kemurnian tradisi. Ada banyak misteri yang menyelubungi suku Lom di Kecamatan Belinyu, Kabupaten Bangka. Asal-usul suku Lom merupakan misteri tersendiri yang sering dijadikan bahan spekulasi oleh sebagian masyarakat di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Spekulasi semakin berkembang karena suku Lom sendiri tidak memiliki catatan tertulis tentang akar sejarahnya.

Asal-usul mereka hanya disandarkan pada cerita tetua adat yang dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi. Cerita lisan itu semakin lama semakin menyusut seiring meninggalnya tokoh-tokoh tua dan minimnya tokoh muda yang tertarik untuk menyerap cerita itu secara lengkap. "Saya tidak banyak tahu sehingga sulit menjelaskan dari mana asal- usul nenek moyang kami. Kami percaya, dahulu ada Kek Anta yang sangat sakti. Konon kami ini termasuk keturunannya," ujar Sairin, salah seorang tetua suku Lom, pertengahan Mei lalu. Legenda tentang Kek Anta banyak dihubungkan dengan peninggalan batu yang menyimpan bekas telapak kaki Kek Anta di sekitar Pantai Pejam, Belinyu. Batu Rusa di daerah Sungailiat juga dipercaya sebagai peninggalan Kek Anta.

"Alkisah, ada seorang sedang mengintip rusa untuk ditombak. Saat itu Kek Anta kebetulan lewat, lalu memanggil si pemburu. Tetapi, orang itu hanya diam saja seperti batu. Kek Anta langsung mengutuknya sehingga benar-benar menjadi batu," tutur Sairin. Seorang peneliti dari Norwegia yang pernah tinggal selama beberapa tahun di tengah suku Lom, Olaf H Smedal, menulis buku yang menarik, Orang Lom: Preliminary Findings on a Non-Muslim Malay Group in Indonesia (1988). Menurut Smedal, terdapat catatan anonim berangka tahun 1862 yang menceritakan dua legenda asal-usul Suku Lom. Kedua legenda itu masih hidup di tengah suku Lom hingga sekarang.


Salah satu legenda menceritakan, sekitar abad ke-14 Masehi, sebuah kapal yang ditumpangi sekelompok orang dari daerah Vietnam terdampar dan rusak di pantai Tanjung Tuing, Kecamatan Belinyu. Semua penumpang tewas, kecuali dua lelaki dan satu perempuan. Ketiga orang asing itu membuat perkampungan tersendiri di daerah Gunung Pelawan, Belinyu. Legenda lain mengisahkan, suku Lom merupakan keturunan pasangan lelaki dan perempuan yang muncul secara misterius dari Bukit Semidang di Belinyu setelah banjir besar surut. Ketua Lembaga Adat Provinsi Bangka Belitung Suhaimi Sulaiman memperkirakan, suku Lom merupakan keturunan dari bangsawan Majapahit di Mojokerto, Jawa Timur, yang lari karena tidak mau memeluk Islam, sekitar abad ke-16 Masehi. Kaum pelarian itu menyeberangi laut untuk mencari penghidupan baru dan terdampar di Tanjung Tuing. Mereka masuk ke pedalaman di daerah Gunung Muda dan membuat perkampungan di tengah hutan yang tersembunyi. Karakter sebagai pelarian membuat suku itu hidup dengan menutup diri dari dunia luar. "Suku itu sering juga disebut sebagai suku Mapur karena tinggal di dekat daerah Mapur," tutur Suhaimi.

Lepas dari semua perkiraan itu, sebagian besar masyarakat Kepulauan Bangka Belitung yakin, suku Lom merupakan suku tertua di daerah tersebut. Budayawan muda yang tinggal di PangkalPinang, Willy Siswanto, memperhitungkan, suku Lom berasal dari komunitas Vietnam yang mendarat dan menetap di daerah Gunung Muda, Belinyu, sekitar abad ke-5 Masehi. Jadi, suku itu telah ada jauh sebelum Kerajaan Sriwijaya yang berkembang abad ke-7 Masehi dan kuli kontrak timah dari China berdatangan sekitar abad ke-18 Masehi. "Orang-orang Lom merupakan komunitas yang pertama kali mendiami daerah Bangka Belitung. Tidak ada catatan sejarah yang menceritakan suku lain sebelum suku Lom," papar Willy Siswanto.

Spekulasi lain yang banyak dibicarakan adalah misteri Bubung Tujuh yang berarti tujuh rumah tertua di suku Lom. Masyarakat setempat percaya bahwa terdapat tujuh keluarga yang merupakan keturunan pertama dari nenek moyang suku. Setelah ayah-ibunya meninggal, ketujuh keluarga itu membuat rumah sendiri sebanyak tujuh rumah di kaki bukit di tengah hutan. Rumah itu berbentuk rumah panggung yang tinggi dengan atap daun nipah. Beberapa kalangan percaya, Bubung Tujuh sering menampakkan diri pada orang-orang tertentu pada malam tertentu. Mitos itu begitu menggoda sehingga masyarakat yang mengunjungi suku Lom sering penasaran dan selalu menanyakan misteri ini. Namun, bagi suku Lom sendiri, Bubung Tujuh sudah jadi mitos yang terlalu dibesar-besarkan.

"Saya orang Lom asli dan hidup bersama sejak masih tinggal di hutan-hutan sampai menetap di perkampungan. Tetapi, sampai sekarang saya tidak pernah menyaksikan Bubung Tujuh. Itu terlalu dikarang-karang oleh orang luar saja," tandas Ny Uded alias Tem. Tem, ibu kandung Kepala Dusun Air Abik, Tagtui, merupakan penganut adat yang telah berusia 80 tahun. Pada mulanya suku Lom hidup secara berkelompok di tengah hutan dan sering berpindah-pindah mengikuti pembukaan ladang baru. Gaya hidup itu menyulitkan aparat pemerintah setempat, terutama dalam melakukan pendataan penduduk secara rutin. Sekitar tahun 1973 pemerintah Orde Baru menggiatkan Proyek Perkampungan Masyarakat Terasing (PKMT) dengan membangun sekitar 75 rumah semipermanen di daerah Dusun Air Abik. Rumah proyek itu berbentuk rumah kayu beratap genteng, berukuran sekitar 4 x 4 meter.

Rumah tersebut baru ditempati sekitar tahun 1977, dan sekarang telah menjadi kampung yang dihuni sekitar 139 keluarga. Mereka ini sering disebut sebagai "Lom Luar" karena telah hidup menetap di satu tempat dan bisa ditemui oleh orang luar sewaktu- waktu. "Awalnya kami masih senang tinggal di hutan dan terus berpindah-pindah. Tetapi, Presiden Soeharto itu baik hati karena mau menyediakan rumah gratis, memberi bahan makanan, gula, dan kopi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Setelah lima tahun dibangun, akhirnya kami mau menempati kampung ini," tutur Tem.

Di luar kampung itu, masih ada sekitar 40 keluarga yang tetap memilih hidup berpindah-pindah dan mengandalkan hidup dari ladang berpindah. Mereka yang disebut "Lom Dalam" ini hidup dalam kelompok-kelompok kecil atau sendiri di tengah hutan yang lebat dengan jarak antarkelompok sekitar dua sampai lima kilometer. Perumahan komunitas "Lom Dalam" masih semi permanen, berupa rumah panggung dengan dinding kulit kayu dan atap daun nipah. Kehadiran mereka sulit dilacak karena mereka bisa berpindah sewaktu-waktu tanpa diduga, dan perpindahan itu menggunakan jalan tikus di tengah hutan yang bercabang-cabang dan membingungkan. Bagi orang luar yang kurang memahami daerah itu, keberadaan mereka menjadi misterius, antara ada dan tidak ada.

"Banyak orang bilang, suku Lom Dalam misterius. Padahal sesungguhnya mereka hanya sulit dicari karena cenderung bersembunyi dan terus berpindah-pindah tempat. Karakter kaum pelarian masih melekat dalam benak mereka sehingga mereka menghindari kemapanan yang mudah dilacak orang asing," tutur Suhaimi Sulaiman yang pernah mengunjungi suku Lom pertengahan tahun 1980-an. Sekilas, perkampungan di Air Abik hampir tidak jauh berbeda dengan perkampungan suku Melayu atau masyarakat China peranakan di daerah Belinyu. Meski kondisi beberapa rumah proyek masih tetap utuh sebagaimana pertama kali dibangun 28 tahun lalu, tetapi beberapa rumah telah dipugar menjadi rumah tembok permanen yang mentereng.

Sumber : http://bangkabelitungkite.blogspot.com/2013/10/suku-lom-di-bangka-belitung-suku-tertua.html


close

Pakaian Adat Pengantin Bangka Belitung



Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan “Paksian”. Bagi mempelai laki-laki memakai “Sorban” atau disebut “Sungkon”.

Baju pengantin perempuan menurut keterangan orang tua-tua berasal dari negeri Cina, konon menurut cerita ada saudagar dari Arab yang datang ke negeri Cina untuk berdagang sambil menyiarkan agama Islam dan jatuh cinta dengan seorang gadis Cina kemudian melangsungkan perkawinan dengan gadis Cina tersebut, pada perkawinan inilah mereka memakai pakaian adat masing-masing. Selanjutnya karena banyaknya orang-orang Cina dan Arab yang datang merantau ke pulau Bangka terutama ke Kota Mentok yang merupakan pusat pemerintahan pada waktu itu diantaranya ada yang melakukan perkawinan maka banyaklah penduduk pulau Bangka yang meniru pakaian tersebut. Pakaian pengantin tersebut pada akhirnya kita sebut dengan nama “Paksian”. Pakaian tersebut terdiri dari:

  1. Pakaian Pengantin Wanita
    Pakaian pengantin perempuan adalah baju kurung dengan bahan beludru merah yang dilengkapi dengan teratai atau penutup dada serta menggunakan kain cual yaitu kain tenun asli Bangka yang berasal dari Mentok, dengan hiasan kepala yang biasa kita sebut Paksian dan dilengkapi dengan asesoris:
    1. Kembang cempaka
    2. Kembang goyang
    3. Daun bambu
    4. Kuntum cempaka
    5. Sepit udang
    6. Pagar tenggalung
    7. Sari bulan
    8. Tutup sanggul atau kembang hong
    9. Kalung
    10. Anting panjang
    11. Gelang
    12. Pending untuk pinggang
    Baju pengantin perempuan ditambah dengan hiasan payet atau manik-manik dan dilengkapi dengan hiasan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan).

  2. Pakaian Pengantin Pria
    Adapun untuk pakaian pengantin laki-laki terdiri dari:
    1. Jubah panjang sebatas betis
    2. Selempang yang dipakai pada bahu sebelah kanan
    3. Celana
    4. Penutup kepala seperti sorban (sungkon)
    5. Pending
    6. Selop/Sendal Arab
  3. Pakaian pengantin laki-laki ini berwarna merah dan biasanya dari bahan beludru dengan hiasan manik-manik dan sama dengan pengantin perempuan dilengkapi dengan Ronce Melati untuk keindahan dan keharuman alami (bukan keharusan).

Sumber : http://bangkabelitungkite.blogspot.com/2012/06/pakaian-adat-pengantin-bangka-belitung.html